Review Film 99 Cahaya Di Langit Eropa

Kamis, 12 Desember 2013

sumber : Gogle
Entah bagaimana ceritanya, saya menonton film ini kemarin. Saya bukan orang yang sering masuk bioskop dan menonton film. Tapi entah kali ini, saya sangat ingin menontonnya. Mungkin karena hasutan tidak langsung beberapa teman yang sudah nonton.  Padahal saya belum baca novelnya. Tentu saja, ahsannya membaca dulu baru menonton filmnya. Tapi, karena bukunya belum saya dapat, jadi baru nonton saja dulu.  Semalam sebelumnya saya sempat membaca rating teman teman yang koment di Goodreads tentang buku tulisan Hanum Rais dan Suaminya ini. Sebagian memuji dan ada juga yang mengkritiknya. Hanum Rais sendiri ternyata adalah anak dari Amin Rais, yang menemani suaminya menyelesaikan kuliah S3 nya di Wina, Austria. Sebelumnya, Hanum adalah jebolan FKG UGM. Dan penah bekerja di pertelevisian. Dan pernah menulis buku tentang biografi ayahnya.
Nah, langsung ke inti filmya.
Awal awal Hanum merasa bosan karena  tidak punya kegiatan dan juga karena ditinggal sang suami yang pergi kuliah. Dia merasa bosan di flatnya. Dia akhirnnya memutuskan jalan jalan hingga kemudian menemukan iklan kursus bahasa Jerman. Nah di kelas bahasa Jerman inilah dia bertemu dengan Fatma Pasha. Wanita keturunan Turki yang sebelumnnya pernah dilihatnya sepintas di sebuah toko yang menolak lamaran pekerjaannya dengan alasan Bahasa Jerman Fatma belum lancar.
Mereka kemudian berkenalan. Dan dari perbincangan itu, Fatma mengaku dia sangat kesulitan mencari pekerjaan, salah satu alasannya menurutnya, mungkin karena jilbab yang di pakainya. Menurutnya dia dan Ayse, anaknya, hidup bergantung pada penghasilan suaminya –yang entah apa pekerjaannya-.
Setiap harinnya, selesai kursus bahasa Jerman, Fatma Pasha bersedia menemani Hanum menjelajahi Wina, dan menelsuri jejak jejak Islam di sana. Bermula dari bukit- saya kurang tau namannya dan aduuh saya pun lupa apa sejarah Islam di sini. Sepertinya kisah penaklukan oleh Turki begitu. Inilah susahnya kalau tidak baca novelnya baru langsung nonton. Hehhe. Tidak bisa tau detailnya. Karena film memang kurang detail. Tapi dia di dukung dengan visual yang hebat. Ini alasan saya ingin sekali nonton filmnya, mau memanjakan mata dengan view Eropa, tentu saja ingin tau jejak jejak Islam di Eropa,yang ternyata sangat sedikit saya dapat, karena belum baca novelnya. Tapi tak papalah, I’m going to read it! 

Setelah bukit itu, mereka mengunjungi musem. Di museum inilah, mereka melihat lukisan lukisan penaklukan Austria oleh Turki (kalau tidak salah). Dan Hanum mendapati Fatma dan Ayse menagis di depan sebuah lukisan, yang ternyata adalah lukisan Kara Mustafa Pasha. Fatma mengaku bahwa dia masih keturunan Kara Mustafa,dilihat dari namanya. Dan di sekolah Ayse sering di ejek karena jlbabnya dan juga kadang diejek sebagai keturunan Kara Mustafa. Saya kurang mengerti dengan sejarah Kara Mustafa. 

Seterusnya ada adegan ketika mereka makan di sebuah restoran atau mungkin semacam kafe.
Fatma menceritakan asal mula cappucino Itali yang sedang diminum Hanum. Itu adalah bermula dari biji kopi yang berserakan bawaan tentara Muslim. Yang kemudian dikumpulkan oleh orang Eropa dan diolah, maka jadilah Italian Cappuciono yang terkenal itu. 

Ketika Fatma ke toilet bersama anaknya, Hanum mendengar dua orang laki laki yang duduk di dekat mereka yang sedang berbincang bincang. Kedegarannya seperti sedang menghina. Hanum memperhatikan keduannya. Seorang mengatakan bahwa dia sangat suka makan roti, karena roti itu mirip dengan bendera Turki. Jadi ketika dia memakannya dia seperti sedang memakan “orang orang Turki mungkin”. Pokoknya ada rasa kemenangan jika dia memasukkan roti itu ke mulut dan mengunyahnya.  
Sekembalinya dari toilet, Fatma menyuruh anaknya melanjutkan makan rotinya yang masih tersisa, tapi Hanum mencegahnya dan menceritakan obrolan kedua pria itu. Hanum geram dan ingin melabrak keduanya. Fatma mencegahnnya. Dia kemudian melakukan sesuatu. Dia menulis sebuah note di secarik kertas “ Hi, I’m Fatma, I’m Muslim. Anda bisa menghubungi saya di email ini. Selamat menikmati makanan Anda.”
Dia menyerahkan note itu pada pelayan dan juga membayar tagihan kedua pria tersebut.
Tentu saja Hanum terperangah dengan kelakukan Fatma, menurutnya Fatma telah membiarkan orang lain semena mena dan malah berbuat baik padahal jelas mereka menghina negara dan agamannya. Tapi Fatma menjelaskan kadang mengalah adalah cara untuk menang.
Kedua pria tersebut seperti menyesali obrolan keduanya ketika membaca note itu. Dan beberapa pecan kemudian mereka mengirimi Fatma email.  
Adegan lucu adalah ketika, Hanum memasak dan menggoreng ikan kering sambil menyalakan televise cukup keras. Taulah bau ikan kering bagaimana. Hahaha. Dia digedor keras oleh tetangganya. Gedoran pertama, tetantaga itu tidak suka bau ikan kering yang tentu saja menyengat ketika di goreng. Gedoran kedua, karena suara tv nya. Gedoran ketiga, Hanum sudah jengkel, tapi ternyata yang datang adalah suaminnya. Suaminya kaget karena disambut dengan marah marah. Hahaha.
Kemudian ada adegan di mana suaminya harus ujian pada hari Jumat. Dan karena dilema yang sangat kuat, suaminya tidak ikut sholat Jumat.
Menurut professornya Tuhan orang Islam itu penyayang, jadi Dia pasti maklum bahwa hamba Nya sedang ujian.
Cita cita Hanum dan Fatma adalah menyusuri Eropa dan melihat jejak jejak Islam di sana. Satu kalimat Fatma yang selau di ingat oleh Hanum adalah, “jadilah agen muslim yang baik. Dari situ akhirnya Hanum punya ide membuatkan mie dan ikan goreng untuk makan siang tetangganya yang pernah sewot karena aroma ikan kering itu.Dan ternyata memang dia suka. Hanum kemudian berpikir, bahwa Islam itu bukan hanya sebatas iman, tapi juga amalan.  Ayse sempat bertanya kenapa Tante Hanum tidak memakai Hijab. Fatma berkelit dan menjawab bahwa Hanum sedang sakit kepala.
Pekan berikutnya Suami Hanum harus membawakan presentasi di Paris atas rekomendasi Professornya. Dan Hanum dibolehkan ikut. Fatma memberinya kartu nama temannya di Paris yang akan mengajaknya berkeliling dari pada sendiri karena suaminya sedang prensentasi. Temannya itu adalah seseorang yang masuk Islam dengan perantara Fatma.
Dan di Paris, Hanum melakukan perjalannnya dengan Marion. Pertama di sebuah museum –nda tau namanya- di sini ada yang menarik di antara semua lukisan. Yaitu lukisan bunda Maria dan bayi Yesus. Yang membuat menarik adalah tulisan Laa Ilaaha IllahLLah”di pinggir jilbab Bunda Maria. Kemudian tentang jalan jalan di Paris yang lurus. dan sebuah patung  yang menghadap ke timur / tenggara. Dan ternyata kalau di tarik garis lurus akan sampai ke Ka’bah. Patung yang didirikan oleh Napoleon Bonaparte itu persis menghadap ke Ka’bah. Tentu bukan suatu kebetulan. Jadi bisa saja memang Napoleon Bonaparte dulu masuk Islam. Lalu di jelaskan bahwa Islam memang sudah ada di Eropa sejak zaman dahulu. Ini dibuktikan ada banyak semacam artefak, atau apalah namamnya yang benda benda yang ada tulisan Arabnnya. Ini membuktikan Eropa memang pernah dikuasai oleh orang orang Islam.
Lalu kemudian Hanum dan Suaminya naik ke Manara Eiffell dan ada adegan suami Hanum mengumandangkan azan di Eifell.
Sebelum kembali ke Wina,Marion menitikan sesuatu untuk Fatma. Yang kemudian,belum sempat di berikan kepada Fatma, karena Fatma sudah meninggalkan rumahnya. Setelah memeriksa isi kirimannya, Hanum akhirnya tahu, bahwa Ayse sedang mengidap kanker. Kiriman itu berupa obat kanker untuk ayse dan surat untuk Fatma, yang menyatakan kerinduan Marion kepada keduanya dan juga mengabarkan bahwa dia akan pindah ke Mesir.


Ini saja. Bagian keduanya akan bercerita tentang Cordoba. Dan saya sangat curious. Film ini, simply good! Yaa salah satunya karena ke Eifell bareng suami. Saya pun bermimpi, suatu saat ke Eropa. Tapi siapakah yang sedang menyelesaikan S3 nya dan akan saya temani. Atau mungkin dengan cerita lain yang lebih indah.:) dan juga di film ini saya suka cara Fatma berjilbab. It’s a must watch!
Ini review dimana saya hanya menonton filmnya dan belum membaca bukunya, jadi saya belum tau seberapa ‘perbedaan’ film dengan bukunya!

Makassar,12 Desember 2013.
Rahma Afnan.

3 komentar:

Posting Komentar

tinggalkan jejak ya... :)