Fenomena Pra PilPres 2014

Rabu, 04 Juni 2014



1.      Semua orang ngomongin politik. Paham maupun tidak. Dari tongkrongan tukang becak, café-café, hingga kantor kantor elite. Kecuali mereka yang tidak suka, tidak peka dan tidak tahu.
2.      Media social. Betapa riuhnya tempat ini. Saling bantai, sikut sana sini, mencaci, menjagokan pilihan dan menjelekkan lawan. Tanpa ba bi bu nge-share berita tentang kejelekan calon lawan jagoannya. Lalu dengan santai pake prolog kata kata menghasut dan provokatif. Berapa banyak yang saling meng-unfriend, ulfollow, blokir karena tidak rela jagoannya dijelek jelekkan. Huffttt… siapa yang bersaing, siapa yang bermusuhan…….??!!
3.      Media mainstream. Waah ini lebih kacau lagi. Apa yang terjadi dengan pers Indonesia? Beginilah, jika media bercampur dengan politik. Media tidak bisa lagi berdiri di tengah, antara masyarakat dan calon presiden itu. Suatu media yang backingnya mendukung salah satu capres menjadi surga bagi capres sang capres dan neraka bagi lawan politiknya. Berita baik capres jagoanlah yang selalu disajikan dan sudah tentu isu isu miring lawan politik sang pemilik media. Bahkan baru baca judul berita saja, kita sudah bisa menebak media ini dukung siapa. Dan sepertinya akan terus berlanjut setela pemilu. Siapapun yang menang, maka media yang berseberangan dengannnya akan terus memberitakan keburukannya. Bodo amat dengan yang namanya kode etik jurnalistik. Berita yang cover both side??? Nol besar. Jangan harap ada! Kebebasan pers yang kebablasan! Ckckc… pers kita lagi sakit!
4.      Tabayyun,-hal yang diperintahkan oleh agama ketika mendapatkan suatu berita- sudah banyak dilupakan orang. Mengecek kebenaran berita, tidak lagi dilakukan. Mereka lebih suka yang instan. Cepat saji. Padahal rahasia umum yang cepat saji biasanya tidak ‘sehat’. Efek dunia digital yang semakin tidak terelakkan kali ya… Berita sekarang luar biasa cepatnya. Ah.. tabayyun lah..jangan makan berita mentah mentah. Apalagi baru baca judul berita sudah terhasut. Padahal salah satu trik media menarik pembaca adalah membuat judul yang provokatif. Ckckck…
5.      Banyak analisis tentang capres pilihan. Tentu saja yang baik baiknya. Kebaikan yang akan terjadi jika dia terpilih. Ini lebih baik dari pada menjelek jelekkan capres lain, black campaign. Begitulah seharusnya, memilih karena kemampuan dan kelebihannya, bukan karena kejelekan capres lain. Sama dengan kita, kita tidak  mejadi lebih baik dengan menjelek jelekkan orang. Yang menghina tidaklah lebih baik dari yang dihina. Be fair! Bersaing yang sehat. Kampanye juga yang sehat.
*catatan malam ini, dari saya yang gusar…. :D
Mks, 3 Juni 2014

0 komentar:

Posting Komentar

tinggalkan jejak ya... :)