MOTIVASI MENULIS

Kamis, 24 Oktober 2013

Aku membaca banyak buku, bertemu motivator dan penulis, mengikuti seminar yang mengajarkan, memotivasi, dan memberikan tips untuk menulis. Tapi aku tidak menemukan perubahan pada diriku. Aku tidak lantas menjadi penulis dengan tulisan yang hebat. Penulis terkenal dan produktif.
Lalu aku menemukan, bahwa masalah terbesar untuk menulis ada dalam diriku sendiri. Kemauan dan action. Kadang ada rasa mau, tapi justru action ku enggan memulai. Rasa malas, menunda, hilang mood, ngantuk dan masih banyak lagi yang lain. Padahal menurutku, tidak ada masalah besar yang menghadang dari luar untuk menghalangiku menulis. Perasaan mau itu dari dalam, dan halangan yang menghadang pun berasal dari dalam. Kadang aku berpikir mungkin cita cita jadi penulis hanyalah sebatas khayalanku saja. Hanya bermain dalam angan dan tidak mewujud dalam nyata. Ini pertanyaan buat diriku sendiri. Kenapa begitu banyak alasan yang nota bene dari dalam diri sendiri. Atau bahkan kadang ketika semua alasan di atas berhasil ku tepis, aku malah mencari cari alasan lain untuk berkelit dari menulis. Lalu dengan ringan memaafkan diriku sendiri ketika tidak menulis dengan alasan yang kurasa sangat sepele. Ah… ini rasa apa?? Mau apa beneran mau?? Atau hanya ingin membanggakan diri bahwa aku punya khayalan menjadi penulis.

Lalu kemudian aku membaca sebuah buku. Di dalamnya ada tulisan. “TALKING ABOUT WRITING , OR THINKING ABOUT WRITING OR WORRYING ABOUT WRITING IS NOT WRITING”. Wah ini seperti tamparan yang sangat kuat sekaligus menyadarkan saya. Yaa yang harus saya lakukan adalah menulis saja. Tidak perlu terlalu banyak bertele tele dengan ngomong masalah menulis, banyak mikir, dan menggalaukannya, diskusi atau apalah yang lainnya tentang menulis, sementara saya tidak juga menggoreskan pena atau memencet tombol keyboard, itu tetap tidak ada artinya.
Menulis, mulai dari sekarang,apa saja,buang semua yang menjadi alasan yang hanya sepele itu. Tidak penting. Yang penting itu menulis. Menulis dan terus menulis. Jangan kau abaikan suara hati. Jika kau buntu, tuliskan saja apa yang terlintas dan atau tuliskan apa yang mejadi bisikan hatimu. Banyak orang besar adalah karena mereka mendengarkan suara hati mereka.
Menulis untuk mencerahkan, untuk menjadikan orang yang membacanya merasa terisnpirasi dan juga untuk menjadikan mu abadi dengan tulisanmu. Tulisan itu pertaruhan jariyah. Makanya kau pun tetap berhati hati dengan tulisan mu. Apakah menjadi kebaikan jariyah atau dosa jariyah tapi untuk memulai kau menulis sajalah. Menulislah untuk diri sendiri dulu. Lalu sebarkan untuk orang, darinya orang akan berkomentar atau mengkritik, atau jika belum siap untuk diktirik, maka konsumsi sendiri pun tak apa. Akan terasa menjadi sangat kaya ketika kita punya banyak tulisan. Hal yang indah dalam menulis adalah ketika membaca kembali apa yang sudah di tulis. Ini akan sangat bermanfaat ketika semangat menulis mulai kendur, atau tiba tiba tidak produktif lagi. Membaca apa yang sudah di tulis adalah seperti menemukan harta karun. Kadang bahkan aku merasa seperti bukan diriku yang menulisnya. Saya ternyata mampu menulis seperti itu di masa yang lalu. Lantas kenapa saya tidak bisa sekarang. Bukan kah hanya tinggal mnegmbangkan apa yang sudah saya mulai. Apakah perkembangan kemampuan saya menuju titik yang lebih rendah dari apa yang sudah saya capai sebelumnya. Dan tentu ini akan memicu kita untuk melakukan hal yang lebih lagi. Malu sama umur doonk. Masa lebih bagusaan yang sebelumnya. Padahal kan harusnya makin hari makin bagus.
Yapp yang perlu kita lakukan adalah terus berlatih.
Suatu hari kau akan terperangah dengan apa yang sudah kau goreskan. Tapi teruslah meulis. Bagi seorang yang masih belajar dan berlatih, rasa puas adalah musuh besar. Dia melumpuhkan dan mematikan. Ketika masih berlatih lantas merasa puas,maka anda harus berhati hati, ini lebih seram dari halangan halangan yang sudah saya sebutkan sebelumnya. Teruslah menulis, jangan cepat puas dengan apa yang anda capi. Yang perlu Anda lakukan hanyalah menulis dan menulis. Jangan takut di kritik dan juga jangan merasa puas.
Sekian dari saya.
Salam Pena
Rahma Afnan.

Hati

Senin, 30 September 2013

Andai hati bisa di lihat

Maka kita akan melihat hati hati di sekitar kita
Yang bersih, bening, dan jernih

Lalu kita menoleh ke arah yang lain
Ada yang kelabu, teriris , terluka bahkan berdarah

Lalu pada arah lainnya
Ada hati yang hitam, penuh noda bahkan berbau busuk

Kemudian kita tengok hati kita??
seperti apa rupannya?? adakah lebih baik, atau malah lebih buruk??

masing masing hati menggambarkan sang empunya. di mana mana orang akan berlomba lomba memperbaiki hati mereka seperti orang berlomba memperbaiki bentuk rupa sekarang. Salon salon kecantikan hati akan penuh, seperti penuhnya salon salon kecantikan wajah.

Apa kabar hati??

Mr. Glasses

Jumat, 27 September 2013

“Kiri pak,”ujarku ke Pak Sopir,tepat di depan sebuah mini market dekat kosan-ku.
Aku turun dan menyodorkan Rp.4000,-ke arah sopir angkot. Aku baru saja pulang dari menduplikat kunci kosan-ku. Beberapa bulan lalu, kos kami kemalingan dan kunci nya di bawa lari sama si maling. Terpaksa harus duplikat lagi.
Aku berniat mengecek ATM ku. Mama barusan menelfon, katanya dia baru saja mentransfer uang. Dan ATM terdekat dari kosan adalah di mini market ini.
Jalanan tampak ramai, sementara saya harus menyebrang jalan untuk mencapai mini market. Bandwith jalan ini memang kecil tapi banyak di lalui oleh kendaraan, jadinya ramai. Tak jarang di sini sumber macet pagi dan sore hari.
Aku berusaha langsung menyebrang, tapi padatnya kendaraan yang lewat membuatku mengurungkan niatku. Dan memundurkan langkahku lagi. Aku menoleh ke arah kanan, dari arah kendaraan datang.
Mataku terpana, oleh seseorang yang menghalangi pandanganku. Beberapa meter dari tempatku berdiri seseorang laki laki tampak menoleh ke arahku. Dari wajah dan penampilannya ku tebak dia adalah mahasiswa. Dia di atas sepedanya, tampaknya ingin menyebrang juga.
Aku sempat berdegup kencang di buatnya. Dia berkacamata. Celana panjang hitam yang hanya sampai di atas mata kaki. Jaket almamater hitam.Sangat mirip Luky Perdana, bahkan awalnya aku kira dia Luky Perdana, tapi kemudian aku berpikir ngapain Luky Perdana ke sini hehhehe. Kan pasti udah di kerumuni fans tuh.  Dan satu lagi, dia berkulit hitam manis.
Aku masih terbius ketika dia mengalihkan pandangannya. Wooowww..ini betul betul luar biasa. Aku semakin berdegup kencang ketika dia agak mendekat ke arahku. Matanya awas memandangi kendaraan yang lewat. MasyaAllah. Dia 100% gagah. Aku beristigfar dalam hati. Sesaat sebelumnya aku berharap agar kendaraan itu tidak berhenti. Hahhaha.
Aku kembali focus pada mobil-mobil yang lewat. Ini memang sudah pukul 17.03. Hmm memang waktu pulang kerja, wajar padat begini jalannya. Dia berada di sebelah kanan saya, jadi dia yang akan mulai menyebrang duluan, aku akan ikut. Nanti di jalur kiri, aku yang akan membuatnya menyebrang gratis hehhhe.
Dari arah sana tampak sebuah bentor di belakang angkot berjalan lambat. Hmm ini dia kesempatanya. Aku melihatnya bersiap siap mengayuh. Aku pun mengambil ancang ancang. Sesaat kemudian jalanan jalur kanan tampak kosong, aku mengikutinya menyebrang tapi tetap di posisi ku. Aku tak meliriknya lagi.Seluruh perhatianku terpusat pada lalu lintas. Saya sampai di tengah jalan. Tempat lajur kiri. Aku berhenti sejenak. Mengawasi kendaraan dari arah kiri. Sejenak aku teringat, doi pasti berhenti juga, aku menoleh ke belakang, OMG, dia tepat di belakangku. Sejenak aku berpikir, mungkin dia menungguku menyebrang. Dan dia akan mengekoriku. Baiklah, aku akan “membimbingmu” menyebrang. Bukankah aku harus balas budi. ? Hehhehe. Aku menggerakkan tanganku seperti orang yang menyetop mobil atau menyuruhnya pelan pelan, sambil melangkahkan kaki ku pelan.  Seterusnya aku melangkah dengan pasti ke pinggran jalan.
Di tepi jalan, ekor mataku menatapnya mengayuh pelan beberapa meter di sampingku.  Ketika Aku melangkahkan kaki ke arah kanan, tepat pintu masuk mini market, aku hampir menabrak ujung roda sepedanya. Rupanya dia ingin menyalib ke kiri. Kearah apotik di samping mini market. Ouuhh.. Goshh!! Dia mengerem. Aku berlalu sambil tersenyum. Apa kau mengucapkan “thank you??”. With pleasure “you’re welcome”. :). Aku meneruskan langkahku ke dalam mini market. Aku masih tersenyum sendiri membayangkan kisah mini nan lucu. Dari seberang jalan dan berakhir di seberang yang lainnya. Petugas mini market membalas senyumku. Aku merasa bersalah, senyum itu bukan untuknya. Tapi untuk seseorang yang tidak melihatnya. Hahhhhaha. Dari balik kaca, aku melihat sebuah sepeda terparkir gagah. He is gone :D. Astagfirullah