Awal Januari yang basah.
Layaknya Desember yang telah berlalu, hujan masih saja mampir di beranda. Masih
terdengar sesekali suara terompet. Juga ledakan ledakan petasan yang
berisik itu. Mereka menyambut Januari. Dan melupakan Desember. Mengganti
angka tahun dengan pesta.
Tampilkan postingan dengan label Essay. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Essay. Tampilkan semua postingan
Something Called Time!
Senin, 19 Mei 2014
Diposting oleh
Rahma Afnan
di
Senin, Mei 19, 2014
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Essay
KARENA KITA BEGITU BERHARGA.
Jumat, 29 November 2013
Melihat judulnya tentu ingat iklan salah satu
produk perawatan wajah kan? Produk kecantikan wanita tentunya. Karena kita
begitu berharga., benar ga siih?? Yup! tentu saja benar banget.
Pertama kita akan sangat berharga ketika kita
merasa bahwa kita memang begitu berharga, lantas apa tolak ukur seseorang
berharga?? Sebenarnya kita mau di hargai dari sisi mana?? Kita yang tentukan
apa yang dari diri kita yang membuat kita begitu berharga.
Akhwati, tentu saja dirimu begitu berharga,
dari sisi manapun. Bukankah Rasulullah sudah mengatakan bahwa,” dirimu adalah
sebaik perhiasan dunia”. Maka berarti
dirimu sangat berharga.
Ada yang bilang, bagaimana orang lain menghormati
dirimu, jika engkau sendiri tidak menghormatinya. Bagamana siih menghormati
diri sendiri sebenarnya. Yuk … kita bahas.
Well, sebenarnya kita dapat menghargai diri kita
sendiri, bukan berarti harus songong dan sombong dan mengatakan kita tidak level
dengan orang orang yang di bawah kita. Itu mah, malah membuat kita jatuh di
mata orang. Dan ingat menghargai diri sendiri itu bukan tujuannya semata semata
kita punya level tertentu di mata sesama yaa.
Di antara yang bisa kita lakukan adalah :
Rendah hati, pernah dengar pepatah, semakin
seseorang rendah hati, maka semakin tingggi kedudukannya di hadapan manusia.
Dan orang yang sombong itu seperti seseorang yang berdiri di atas gunung, dia
merasa tinggi dan melihat orang lain itu kecil, padahal orang pun melihatnya
begitu kecil pula.
Nutup aurat.; apakah ini aturan agama
tertentu saja?? Menurutku bukan ya. Karena tidak ada agama yang memerintahkan
pemeluknya untuk tidak berbusana kan? Nah sebatas aturan aturan itu dan apa
yang menjadi pandangan masyarakat umum, hormatilah dirimu sendiri.
Khusus untuk muslimah, tentu ini kewajiban
yang tidak pake tawar menawar kan? Nutup aurat sebagai ketaatan dan juga untuk
kemuliaan. Ayolaah, dirimu tidak diciptakan untuk membuat mata setiap orang terhibur
dengan kecantikan tubuhmu. Wanita itu perhiasan terindahkan, sudah pasti tempatnya
pada tempat tempat tertentu, tidak dilihat dan di sentuh oleh sembarang orang
kan?? Pernah dengar cerita tentang mutiara 1000 karat.? Ada dalam salah satu
novelnya Bang Tere.:) , di mana mereka menyimpannya. Di sebuah ruangan di lantai
tertinggi gedung paling tinggi di ibu kota. Dengan system security pendeteksi
gerakan yang sangat tinggi. Gerakan, bahkan cahaya yang tidak di izinkan akan
cukup membuat alarm pencuriannya berbunyi. Belum petugas yang menjaganya.
Kenapa mereka berbuat seperti itu, karena harganya mahal. Sangat sangat mahal,
pake banget deeh mahalnya. Tapi seseorang berniat mengambilnya dengan nekad.
Dan berhasil., yaa hanya orang nekad lah yang kemudian bisa memperolehnya. Eh
jangan di tiru bahwa yang mengambil itu pencuri yaa.
Yuk belajar menghargai diri sendiri. Menutup aurat, menjaganya, menjadikannya
harta yang tak terbeli dengan uang, menjadikannya mutiara berharga. Menjaga
yang harus kita jaga, memegang prinsip diri sendiri. Berbeda?? Tak masalah. Di
hadapan Allah, kau hanya bertanggung jawab atas dirimu sendiri. Dan juga tak
ada yang mau menjadi tameng bagimu dari perhitungan Allah.
Tetaplah menjadi mutiara, karena kita begitu
berharga ^_^
Rahma Afnan
Makassar 3 Nopember 2013
Diposting oleh
Rahma Afnan
di
Jumat, November 29, 2013
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Essay
MOTIVASI MENULIS
Kamis, 24 Oktober 2013
Aku membaca banyak buku,
bertemu motivator dan penulis, mengikuti seminar yang mengajarkan,
memotivasi, dan memberikan tips untuk menulis. Tapi aku tidak menemukan
perubahan pada diriku. Aku tidak lantas menjadi penulis dengan tulisan
yang hebat. Penulis terkenal dan produktif.
Lalu aku menemukan, bahwa masalah terbesar untuk menulis ada dalam diriku sendiri. Kemauan dan action. Kadang ada rasa mau, tapi justru action ku enggan memulai. Rasa malas, menunda, hilang mood, ngantuk dan masih banyak lagi yang lain. Padahal menurutku, tidak ada masalah besar yang menghadang dari luar untuk menghalangiku menulis. Perasaan mau itu dari dalam, dan halangan yang menghadang pun berasal dari dalam. Kadang aku berpikir mungkin cita cita jadi penulis hanyalah sebatas khayalanku saja. Hanya bermain dalam angan dan tidak mewujud dalam nyata. Ini pertanyaan buat diriku sendiri. Kenapa begitu banyak alasan yang nota bene dari dalam diri sendiri. Atau bahkan kadang ketika semua alasan di atas berhasil ku tepis, aku malah mencari cari alasan lain untuk berkelit dari menulis. Lalu dengan ringan memaafkan diriku sendiri ketika tidak menulis dengan alasan yang kurasa sangat sepele. Ah… ini rasa apa?? Mau apa beneran mau?? Atau hanya ingin membanggakan diri bahwa aku punya khayalan menjadi penulis.
Lalu kemudian aku membaca sebuah buku. Di dalamnya ada tulisan. “TALKING ABOUT WRITING , OR THINKING ABOUT WRITING OR WORRYING ABOUT WRITING IS NOT WRITING”. Wah ini seperti tamparan yang sangat kuat sekaligus menyadarkan saya. Yaa yang harus saya lakukan adalah menulis saja. Tidak perlu terlalu banyak bertele tele dengan ngomong masalah menulis, banyak mikir, dan menggalaukannya, diskusi atau apalah yang lainnya tentang menulis, sementara saya tidak juga menggoreskan pena atau memencet tombol keyboard, itu tetap tidak ada artinya.
Menulis, mulai dari sekarang,apa saja,buang semua yang menjadi alasan yang hanya sepele itu. Tidak penting. Yang penting itu menulis. Menulis dan terus menulis. Jangan kau abaikan suara hati. Jika kau buntu, tuliskan saja apa yang terlintas dan atau tuliskan apa yang mejadi bisikan hatimu. Banyak orang besar adalah karena mereka mendengarkan suara hati mereka.
Menulis untuk mencerahkan, untuk menjadikan orang yang membacanya merasa terisnpirasi dan juga untuk menjadikan mu abadi dengan tulisanmu. Tulisan itu pertaruhan jariyah. Makanya kau pun tetap berhati hati dengan tulisan mu. Apakah menjadi kebaikan jariyah atau dosa jariyah tapi untuk memulai kau menulis sajalah. Menulislah untuk diri sendiri dulu. Lalu sebarkan untuk orang, darinya orang akan berkomentar atau mengkritik, atau jika belum siap untuk diktirik, maka konsumsi sendiri pun tak apa. Akan terasa menjadi sangat kaya ketika kita punya banyak tulisan. Hal yang indah dalam menulis adalah ketika membaca kembali apa yang sudah di tulis. Ini akan sangat bermanfaat ketika semangat menulis mulai kendur, atau tiba tiba tidak produktif lagi. Membaca apa yang sudah di tulis adalah seperti menemukan harta karun. Kadang bahkan aku merasa seperti bukan diriku yang menulisnya. Saya ternyata mampu menulis seperti itu di masa yang lalu. Lantas kenapa saya tidak bisa sekarang. Bukan kah hanya tinggal mnegmbangkan apa yang sudah saya mulai. Apakah perkembangan kemampuan saya menuju titik yang lebih rendah dari apa yang sudah saya capai sebelumnya. Dan tentu ini akan memicu kita untuk melakukan hal yang lebih lagi. Malu sama umur doonk. Masa lebih bagusaan yang sebelumnya. Padahal kan harusnya makin hari makin bagus.
Yapp yang perlu kita lakukan adalah terus berlatih.
Suatu hari kau akan terperangah dengan apa yang sudah kau goreskan. Tapi teruslah meulis. Bagi seorang yang masih belajar dan berlatih, rasa puas adalah musuh besar. Dia melumpuhkan dan mematikan. Ketika masih berlatih lantas merasa puas,maka anda harus berhati hati, ini lebih seram dari halangan halangan yang sudah saya sebutkan sebelumnya. Teruslah menulis, jangan cepat puas dengan apa yang anda capi. Yang perlu Anda lakukan hanyalah menulis dan menulis. Jangan takut di kritik dan juga jangan merasa puas.
Sekian dari saya.
Salam Pena
Rahma Afnan.
Lalu aku menemukan, bahwa masalah terbesar untuk menulis ada dalam diriku sendiri. Kemauan dan action. Kadang ada rasa mau, tapi justru action ku enggan memulai. Rasa malas, menunda, hilang mood, ngantuk dan masih banyak lagi yang lain. Padahal menurutku, tidak ada masalah besar yang menghadang dari luar untuk menghalangiku menulis. Perasaan mau itu dari dalam, dan halangan yang menghadang pun berasal dari dalam. Kadang aku berpikir mungkin cita cita jadi penulis hanyalah sebatas khayalanku saja. Hanya bermain dalam angan dan tidak mewujud dalam nyata. Ini pertanyaan buat diriku sendiri. Kenapa begitu banyak alasan yang nota bene dari dalam diri sendiri. Atau bahkan kadang ketika semua alasan di atas berhasil ku tepis, aku malah mencari cari alasan lain untuk berkelit dari menulis. Lalu dengan ringan memaafkan diriku sendiri ketika tidak menulis dengan alasan yang kurasa sangat sepele. Ah… ini rasa apa?? Mau apa beneran mau?? Atau hanya ingin membanggakan diri bahwa aku punya khayalan menjadi penulis.
Lalu kemudian aku membaca sebuah buku. Di dalamnya ada tulisan. “TALKING ABOUT WRITING , OR THINKING ABOUT WRITING OR WORRYING ABOUT WRITING IS NOT WRITING”. Wah ini seperti tamparan yang sangat kuat sekaligus menyadarkan saya. Yaa yang harus saya lakukan adalah menulis saja. Tidak perlu terlalu banyak bertele tele dengan ngomong masalah menulis, banyak mikir, dan menggalaukannya, diskusi atau apalah yang lainnya tentang menulis, sementara saya tidak juga menggoreskan pena atau memencet tombol keyboard, itu tetap tidak ada artinya.
Menulis, mulai dari sekarang,apa saja,buang semua yang menjadi alasan yang hanya sepele itu. Tidak penting. Yang penting itu menulis. Menulis dan terus menulis. Jangan kau abaikan suara hati. Jika kau buntu, tuliskan saja apa yang terlintas dan atau tuliskan apa yang mejadi bisikan hatimu. Banyak orang besar adalah karena mereka mendengarkan suara hati mereka.
Menulis untuk mencerahkan, untuk menjadikan orang yang membacanya merasa terisnpirasi dan juga untuk menjadikan mu abadi dengan tulisanmu. Tulisan itu pertaruhan jariyah. Makanya kau pun tetap berhati hati dengan tulisan mu. Apakah menjadi kebaikan jariyah atau dosa jariyah tapi untuk memulai kau menulis sajalah. Menulislah untuk diri sendiri dulu. Lalu sebarkan untuk orang, darinya orang akan berkomentar atau mengkritik, atau jika belum siap untuk diktirik, maka konsumsi sendiri pun tak apa. Akan terasa menjadi sangat kaya ketika kita punya banyak tulisan. Hal yang indah dalam menulis adalah ketika membaca kembali apa yang sudah di tulis. Ini akan sangat bermanfaat ketika semangat menulis mulai kendur, atau tiba tiba tidak produktif lagi. Membaca apa yang sudah di tulis adalah seperti menemukan harta karun. Kadang bahkan aku merasa seperti bukan diriku yang menulisnya. Saya ternyata mampu menulis seperti itu di masa yang lalu. Lantas kenapa saya tidak bisa sekarang. Bukan kah hanya tinggal mnegmbangkan apa yang sudah saya mulai. Apakah perkembangan kemampuan saya menuju titik yang lebih rendah dari apa yang sudah saya capai sebelumnya. Dan tentu ini akan memicu kita untuk melakukan hal yang lebih lagi. Malu sama umur doonk. Masa lebih bagusaan yang sebelumnya. Padahal kan harusnya makin hari makin bagus.
Yapp yang perlu kita lakukan adalah terus berlatih.
Suatu hari kau akan terperangah dengan apa yang sudah kau goreskan. Tapi teruslah meulis. Bagi seorang yang masih belajar dan berlatih, rasa puas adalah musuh besar. Dia melumpuhkan dan mematikan. Ketika masih berlatih lantas merasa puas,maka anda harus berhati hati, ini lebih seram dari halangan halangan yang sudah saya sebutkan sebelumnya. Teruslah menulis, jangan cepat puas dengan apa yang anda capi. Yang perlu Anda lakukan hanyalah menulis dan menulis. Jangan takut di kritik dan juga jangan merasa puas.
Sekian dari saya.
Salam Pena
Rahma Afnan.
Diposting oleh
Rahma Afnan
di
Kamis, Oktober 24, 2013
1 komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Essay
Hati
Senin, 30 September 2013
Andai hati bisa di lihat
Maka kita akan melihat hati hati di sekitar kita
Yang bersih, bening, dan jernih
Lalu kita menoleh ke arah yang lain
Ada yang kelabu, teriris , terluka bahkan berdarah
Lalu pada arah lainnya
Ada hati yang hitam, penuh noda bahkan berbau busuk
Kemudian kita tengok hati kita??
seperti apa rupannya?? adakah lebih baik, atau malah lebih buruk??
masing masing hati menggambarkan sang empunya. di mana mana orang akan
berlomba lomba memperbaiki hati mereka seperti orang berlomba
memperbaiki bentuk rupa sekarang. Salon salon kecantikan hati akan
penuh, seperti penuhnya salon salon kecantikan wajah.
Apa kabar hati??
Diposting oleh
Rahma Afnan
di
Senin, September 30, 2013
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Essay
Menulis, dari kewajiban sampai sekedar hobby
Senin, 22 April 2013
Ada banyak alasan
orang untuk menulis. Mulai dari kewajiban,
alasan financial, kepopuleran, berkontribuasi pada peradaban atau hanya sekedar
menyalurkan hobi. Karena alasan alas an itu pula,maka kita jumpai begitu banyak
macam dan aneka jenis tulisan yang muncul. Orang menulis , atau budaya menulis,
berusia hampir sama dengan sejarah manusia. Yaa karena masa seblum mengenal
tulisan di sebut masa prasejarah, jadi boleh di katakana menulis adalah awal di
mana manusia mengenal peradaban.
Dari tulisan
tulisan itu kita kenal kehidupan dahulu. Dan dari tulisan sekaranag kita bisa
merekayasa masa depan. Dan menjadikan nama kita abadi di masa datang.
Memulai
menulis memang agak susah, apalagi untuk penulis pemula. Tapi seiring waktu dan
giat berlatih, tentu kendala kendala seperti itu akan hilang dengan sendirinya.
Membaca adalah hal yang selalu beriringan dengan menulis. Seorang penulis yang
rajin memebaca, akan keliatan bisa menghasilkan tulisan yang bagus. Ini di
karenakan dengan membaca kita akan menemui
beragam gaya tulisan penulis penulis lain. Dan bendahara kosa kita
semakin banayak. Ini tentu saja sangat berguna bagi aktivitas menulis kita.
Semakin banyak
buku yang kita baca, artikel atau apaun itu, semakin banyak wawasan kita dan
bisa dengan mudah menghasilkan tulisan baru. Entah itu menulis menyimpulkan apa yang kita baca,
atau sampai menghasilkan tulisan dengan tema baru. Dari membaca pula, kita akan tau pola pikir
sang penulis. Darinya kita belajar untuk
lebih menata tata cara kita menulis, agar denganya menghasilkan tulisan yang
baik, yang merupakan cerminan pola pikir kita sebagai penulis.
Diposting oleh
Rahma Afnan
di
Senin, April 22, 2013
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Essay
Langganan:
Postingan (Atom)

